Berita Koran: Secuil Tanggapan

February 23, 2011

Beberapa waktu lalu, saya membaca judul di koran Jawa Pos,

“Banyak siswi hamil tak bisa ikut ujian.”

Aduh, saya bener-bener miris bacanya. Saya sempat menulis status di FB saya mengenai hal tersebut dan saya menerima beberapa komen yang menurut saya bagus.

Siswi yang dimaksud dalam artikel tersebut adalah siswi SMP dan SMA [semoga saya tidak salah ;p]. Pihak sekolah sempat bingung apakah para siswi yang hamil ini boleh ikut ujian sekolah atau tidak karena yang dibolehkan mengikuti ujian adalah pelajar, sedangkan siswi yang hamil sudah termasuk kategori ibu.

Memang akhir-akhir ini kasus demikian marak terjadi. Kejadian siswi kedapatan hamil di luar nikah, pembuangan bayi, aborsi, dan bunuh diri. Zaman dahulu sewaktu saya masih duduk di bangku SMP, pikiran yang ada di kepala saya adalah masih terkait dengan bermain, bermain, dan bermain. Bahkan memanfaatkan jam kosong dengan permainan lompat tali pun masih kami lakukan saat duduk di bangku kelas 3 SMP; padahal kelas saya berada tepat di belakang kantor kepala sekolah. Berisik sedikit saja, pasti terdengar.

Jika diamati, pemikiran remaja zaman sekarang memang jauh berbeda dengan remaja zaman dahulu. Pemikiran remaja sekarang jauh lebih dewasa. Hal tersebut tak ayal diperngaruhi oleh pergaulan, aliran informasi, jenis hiburan yang dilakukan, dan makin maraknya tontonan yang tidak senonoh yang dijual bebas tanpa ada batasan umur. Pihak sekolah dan orang tua pun terkadang kesulitan mengontrol pergaulan putra-putri mereka hingga akhirnya ada yang kebablasan. Duh, sayang seribu sayang.

Saya pun bertanya-tanya, apakah hal ini menjadi semacam tren remaja sekarang? Saya harap bukan. Saya harap saya keliru.

Saya teringat kalau di negara maju, ada semacam konseling bagi remaja di bawah umur yang hamil di luar nikah. Mereka diajari bagaimana merawat janin yang dikandung dan mempersiapkan mental mereka untuk menjadi seorang ibu di usia yang masih muda. Keterampilan merawat bayi pun diajarkan termasuk bagaimana memberikan nutrisi yang sehat. Sayangnya di negara kita, belum banyak lembaga yang memberikan konseling semacam itu. Mayoritas masyarakat ujungnya memandang miring remaja-remaja yang kedapatan sedang hamil.

Pengawasan orang tua dan guru, yang bertindak sebagai pembimbing di sekolah, sangat diperlukan. Ancaman datang dari segala arah. Saya memang belum menjadi orang tua. Akan tetapi, teman-teman saya yang sudah menjadi orang tua memang melakukan pengawasan sejak dini agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Pemberian wawasan mengenai s** pun sebaiknya diberikan di sekolah. Saya rasa hal tersebut penting agar para remaja tidak salah jalan. Kalau mereka sudah tau konsekuensi yang dihadapi kan tidak akan coba-coba sesuatu yang semacam itu jika belum waktunya.đŸ™‚

Tulisan di atas adalah sekadar unek-unek saya ketika menanggapi berita yang saya baca di koran. Mungkin ada yang setuju, mungkin ada yang tidak. Mungkin bisa sharing dengan saya di sini tetang pendapat atau mungkin pengalaman real ketika menemui kejadian seperti di atas. Terima kasih sudah menyimak.

4 Responses to “Berita Koran: Secuil Tanggapan”

  1. aicchan Says:

    Ya ya ya… saya juga miris dengan perkembangan mental anak-anak sekaran. Saya dulu juga kelas 3 SMP bawaannya masih maen bekel di kelas =_= Ga ngerti tentang duni2 orang dewasa. bahkan ciuman pun terasa tabu untuk dibicarakan. Tapi anak2 masa kini tuh perkembangan menuju taraf remaja dan dewasa rasanya terlalu cepat.

    menurut saya pribadi sih ya karena pergaulan juga dan setuju dengan kurangnya pengawasa dari orang-orang dewasa di sekitar mereka, baik Ortu maupun guru.

    Dan kalau situasi seperti ini, saya pikir sih memang pendidikan sex harus sudah diberikan sejak usia SMP. kalau masih menganggap itu sebagai hal tabu, justru anak2 akan termakan oleh rasa ingin tahu mereka dan bisa berbelok ke jalan yang ga bener…

    Gitu aja deh komen saya yang agak ga jelas ini =_=

  2. enggar Says:

    Pengawasan yang longgar, pemahaman agama yang luntur dan pengaruh dari media seperti televisi dan internet. Yang paling menjengkelkan adalah sinetron yang nggak jelas di televisi.

    • awan_angel Says:

      oh ya, sinetron itu emang bikin situasi makin ga jelas. semuanya terlalu dibuat-buat cm demi rating. aduh,, jumlah episode-nya sampe ratusan dengan durasi tayang 90-120 menit.

      sy berharap suatu saat insan-insan perfilman bisa bikin sinetron, film, tayangan yang bermutu. uda nyontek dari film atau drama asing aja hasilnya masih tidak memuaskan. bikin saya jd males bgt nonton tivi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: