Alih Profesi: Sebuah Langkah Baru

February 26, 2011

Pada Oktober 2010 lalu, saya memutuskan, akhirnya, untuk melepaskan pekerjaan saya sebagai seorang editor di sebuah penerbit. Yah, keputusan ini saya ambil dengan banyak sekali pertimbangan dan perdebatan panjang. Terkesan terlalu tergesa mungkin, karena toh saya juga belum mendapatkan alternatif pengganti. Tapi karena memang sudah memutuskan untuk melepaskan yang satu ini, maka saya harus melakukannya dengan mantap. Toh keluarga juga sudah sepakat dan memahami kondisi dan posisi saya saat itu.

Saya pun melenggang. Tidak mudah menjalani hari-hari yang sangat santai setelah menjalani hari-hari yang tadinya penuh kesibukan. Di awal menjalani masa nganggur itu, saya mengisinya dengan hanya bermain dan membaca. Sudah lama sekali saya sulit mendapatkan kesempatan untuk leyeh-leyeh dengan membaca novel atau majalah yang dulu sering saya lakukan.

Sudah tak terhitung banyaknya surat lamaran yang dikirimkan, tapi tak kunjung memberikan hasil. Tak ayal, kebosanan melanda. Hanya sekadar membaca tak lagi mampu mengusir kebosanan. Mau tidak mau, saya pun harus mencari aktivitas untuk diri saya sendiri. Akhirnya, saya mencoba beberapa cara. Saya mencoba bisnis berjualan pulsa dan berjualan nasi uduk. Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Tidak sesibuk yang dibayangkan, tetapi cukup untuk memberi saya aktivitas pengalih perhatian.

Genap sebulan saya menjalankan usaha berjualan nasi uduk di kediaman saya di Bekasi. Pada Desember 2010, saya memutuskan untuk kembali ke kota kelahiran saya, Surabaya. Saya berharap bisa membangun kembali semuanya dari awal. Mungkin kali ini saya akan beruntung di kota saya sendiri. Dulu saya menghindari ibu kota, tapi ternyata toh ujung-ujungnya saya harus bekerja di ibu kota.

Tidak semudah yang dibayangkan. Kalau di Bekasi saya bisa menjalankan usaha pulsa dan uduk, tidak demikian halnya di Surabaya. Saya bagai kembali ke masa-masa dahulu ketika baru saja rampung kuliah. Bersama teman berburu pekerjaan. Sempat mencoba bereksperimen dengan beberapa jenis usaha. Mengalami kegagalan dan keberhasilan. Semua kenangan itu kembali jelas dalam ingatan.

Konsekuensi yang bukannya tidak terduga, tapi tetap saja terasa berat dan setengah menyesal melepaskan segala fasilitas yang biasa saya dapatkan. Tahun berganti, bulan berlalu. Bukannya tidak ada tawaran yang datang, hanya saja tawaran yang datang bukan termasuk dalam pekerjaan pilihan saya, mengajar. Pekerjaan menjadi seorang pengajar bukanlah jenis yang akan saya pilih karena memang saya tidak yakin saya akan bisa melakoninya. Pernah sekali waktu saya berkompromi dengan jenis pekerjaan tersebut. Memang tidak ada keluhan yang datang, atau setidaknya belum, saya kurang tahu, tetapi saya masih tidak—atau belum—menikmati menjadi seorang pengajar.

Namun ternyata, sekali lagi saya dihadapkan pada “tantangan” untuk menjadi seorang pengajar. Walaupun hanya mengajar di bimbel, toh saya tetap tidak yakin dengan diri saya. Apa lagi yang ditawarkan adalah posisi untuk menjadi tutor mapel Fisika, yang sangat saya hindari sejak dulu. Berbagai pertanyaan melintas di kepala. Bagaimana kalau nantinya saya tidak bisa menjelaskan dengan baik kepada siswa? Bagaimana kalau saya tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka? Bagaimana kalau saya akan sering membuat kesalahan? Takut, cemas, tapi ingin mencoba mendobrak ketidakyakinan diri saya sendiri.

Lalu, setelah melalui pergumulan pikiran yang panjang. Godaan untuk mencoba tawaran ini menang. Dan keluarga pun bersikeras supaya saya menerimanya. Kembali saya berkompromi dengan posisi tutor. Tapi sebelum saya terjun menghadapi anak-anak itu, saya berusaha keras untuk memahami setidaknya satu halaman lebih maju dibandingkan dengan mereka. Tidak mudah, tapi apa siy yang ga bisa dilakukan kalo kita memang berniat?

Karena sudah mengiyakan, maka saya tidak boleh setengah-setengah. Kalau saya cuma setengah-setengah dengan suatu pekerjaan, maka hasilnya tidak akan pernah memuaskan. Dimulailah hari-hari sebagai seorang tutor. Dan saya resmi beralih profesi. Sambutan positif pun saya terima, baik dari siswa yang belajar maupun dari orang tua. Mau tidak mau perasaan takut agak sedikit berkurang.

Dari peralihan profesi inilah, banyak sekali hal yang bisa dipetik. Ketakutan saya menjadi seorang pengajar, toh akhirnya saya harus berkompromi dengannya. Saatnya mengambil langkah maju walaupun hanya sejengkal. Bukankah jalan di tempat tidak akan membawa kita ke manapun? Dengan mengambil peluang yang ditawarkan, saya dapat mempelajari hal-hal baru. Bagaimana cara mempermudah belajar fisika, atau bagaimana menarik minat siswa SD untuk belajar Bahasa Inggris. Dan bantuan-bantuan yang tidak terkira yang saya dapatkan pun sedikit demi sedikit mengusir ketakutan saya yang sebelumnya membayangi.

Dan roda mulai bergerak kembali. Aktivitas pun semakin bertambah dari hari ke hari. Memulai sebuah awal yang baru memang berat, tapi saya sudah memutuskan. Karena saya masih tidak nyaman dengan panggilan baru saya sebagai “bu guru“—aduh, betapa kata itu benar-benar belum pantas untuk saya—maka saya menganggap diri saya memulai sebuah permainan baru. Permainan sekolah-sekolahan, seperti yang dulu pernah saya lakukan bersama teman sewaktu masih SD. Permainan yang harus dilakukan dengan serius dan tidak boleh serampangan.

Mungkin di suatu waktu di masa depan, saya akan menyesali keputusan saya untuk melepaskan pekerjaan saya yang bagus itu. Tapi mungkin juga tidak. Siapa yang tahu. Tapi yang jelas, saat ini saya sedang mulai menikmati keputusan yang saya ambil dan melangkah dengan mantap. Tak ada suatu hal yang tak mungkin dilakukan kalau kita percaya.

Saya tidak menyarankan pada teman-teman sekalian untuk terburu-buru mengundurkan diri dari pekerjaan yang lama sebelum mendapatkan yang baru, kecuali Anda benar-benar yakin dengan diri Anda sendiri akan cepat mendapatkan gantinya. Zaman sekarang ini, susah untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Masih banyak sekali sarjana-sarjana yang belum bekerja. Mungkin suatu hari nanti saya akan mempunyai usaha sendiri. Saya sudah mulai merencanakannya. Tapi untuk saat ini, saya akan menjalani semuanya pelan-pelan [jadi inget lagunya Kotak]. For the last, semoga keberuntungan menyertai kita semua, amien.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: