Son of The Mask

March 5, 2011

Yah, itulah judul film yang baru saja saya tonton.

Berawal dari sebuah topeng milik dewa yang ditemukan oleh seekor anjing peliharaan. Topeng tersebut lalu diberikan kepada sang majikan dan dipakai untuk mengikuti pesta kostum yang diselenggarakan oleh kantornya. Nah, ya, topeng itu mengubahnya menjadi makhluk hijau yang sangat atraktif dan superribut. Suasana pesta yang tadinya suram menjadi meriah dengan adanya makhluk hijau itu. Then, party is over and time to go home.

Sesampainya di rumah, saking semangatnya, tanpa disadari, terjadilah hal-hal yang diinginkan dengan sang istri. Dan akhirnya, sang istri pun hamil. Hanya saja, karena saat melakukan hal-hal yang diinginkan tadi si pria masih berwujud makhluk hijau karena topeng, si bayi yang lahir pun mempunyai kemampuan yang unik. Si bayi mewarisi sifat-sifat jail dewa pemilik topeng itu. Hell yeah, karena si suami sebenarnya belum siap untuk mempunyai bayi, saat sang istri bertugas di luar kota selama seminggu pun dia kelimpungan mengurus sang bayi. Ditambah lagi sang bayi menunjukkan sifat-sifat kejailannya dan membuat sang ayah stress berat!!

Di lain pihak, dewa pemilik topeng sedang mencari topengnya. Apa pun yang terjadi, dia harus mendapatkan kembali topengnya. Kalau tidak, yah, kekuatan dewa-nya akan dicabut oleh sang raja dewa yang tak lain adalah ayahnya. Wokwou. Dimulailah pencarian sang dewa ini. Raja dewa mengatakan bahwa karena topeng itu, satu lagi bayi sudah lahir. Walhasil pencarian bayi berkekuatan dewa pun dimulai.

Saya kira banyak yang sudah nonton film ini berkali-kali, jadi saya kira semua sudah tau endingnya. Secara keseluruhan, film ini sangat kocak. Namun, ada beberapa pesan yang bisa diambil. Ini sih berdasarkan sudut pandang saya, jadi semuanya menurut pendapat saya saja.

1. Jangan pernah menyerah dalam melakukan hal apa pun.

Sang ayah yang terinspirasi dengan makhluk hijau hiperaktif, menuangkannya menjadi tokoh komik/kartun. Namun, di saat dia harus melakukan presentasi di depan para petinggi, dia malah terjebak harus mengurus si bayi yang semakin membuatnya stress dan tampak seperti orang gila. Akhirnya, dia terlambat datang dan terpaksa dipecat oleh sang bos. Di akhir film, ditampilkan bahwa sang ayah kembali mendapatkan inspirasi dari makhluk hijau dan kehiperaktifan buah hatinya. Membuat cerita menarik yang memukau si bos yang sudah memecatnya.

Perjuangan si ayah yang pantang menyerah dengan pekerjaannya, akhirnya berhasil membuat cerita yang menarik. Saya rasa, dalam hal apa pun, kalau kita tidak pantang menyerah, maka hasil apa pun yang kita peroleh akan terasa manis dan memuaskan.

2. Berusaha memahami dan menerima kekurangan dan kelebihan orang lain.

No body’s perfect. Semua orang mempunyai kekurangan dan kelebihan. Dalam film ini, terlihat bahwa si suami berusaha memahami keinginan sang istri untuk punya bayi. Dan saat si suami mengatakan bahwa dia belum siap, maka si istri pun berusaha untuk sabar. Eh ya, kok dari tadi suami-istri ya,, wkwkkwkwkwkwk… Lalu, si istri juga berusaha memahami keanehan-keanehan sifat sang suami dan sebaliknya, sang suami juga memahami kekurangan sang istri.

Saat si bayi lahir, si suami menjadi ayah. Siap tidak siap, dia pun akhirnya terlibat juga dalam mengurus bayi. Lalu saat harus merawat si bayi seorang diri karena si ibu sedang bertugas ke luar kota, si ayah harus menghadapi kenakalan-kenakalan si bayi. Saat akhirnya si bayi akan dibawa pergi oleh si dewa edan itu, toh si ayah tetap berjuang untuk mendapatkan kembali bayinya. Senakal apa pun si bayi, tetap saja dia adalah buah hatinya. Jiwa ayahnya mencegahnya untuk membiarkan si dewa membawa pergi bayinya.

Lalu ada lagi konflik si dewa dengan raja dewa. Raja dewa tidak puas dengan anaknya yang berbeda dengan kakaknya. Raja dewa berharap anaknya yang bungsu ini menjadi seperti kakaknya. Yah, pada akhirnya ayah si bayi menyadarkan si raja dewa bahwa hubungan ayah dan anak itu sangat berharga. Tidak ada yang namanya mantan anak atau mantan ayah sekalipun mungkin si ayah sudah mengusir si anak. Ada baiknya berusaha memahami sifat masing-masing tanpa harus memaksakan kehendak. Tapi tidak berlaku untuk hal-hal yang tidak baik.

Anyway, treat people as you want to treat. Tapi kalau perlakuan baik kita dibalas dengan tidak baik oleh orang lain, jangan berkecil hati. Semua ada imbal baliknya, tapi kalau melakukan sesuatu jangan mengharapkan imbal balik, ikhlas saja.

That’s all for this time. Kalau ada yang mau sharing ya monggo.

Selamat berhari sabtu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: