Untitled

April 24, 2011

Untitled.

Kemarin, saya sempat menulis status di twitter saya seperti ini:

eh, tp kn klo emg dia ud ga mau temenan sm saya ngapain sy maksa, ya kan ya kan??

Apa yang sedang terlintas di kepala saya saat itu adalah, gimana rasanya kalo kita pengen berteman dengan seseorang tapi ternyata dianya ga berkenan sama kita?

Kenapa mendadak terlintas? Saya sendiri juga bingung.

Pernah saya berkunjung ke rumah seorang teman tanpa pemberitahuan. Dulu, pernah dia mengatakan pada saya kalau dia tidak berkenan dikunjungi di rumahnya. Dia punya alasan tersendiri untuk mengatakan hal itu. Pada saat itu, saya memang tidak ada niatan untuk berkunjung. Tapi ternyata, ada saat di mana saya hanya bisa bertemu dengannya di rumahnya itu. Hmm… sebenarnya saya agak nekad juga. Pikir saya, saya sudah sejauh ini dan saya memang kepengen banget ketemu dia, jadi yah konsekuensi apa pun akan saya tanggung. Kalau misalnya ketika saya tiba di rumahnya dan dia sedang tidak di rumah, saya akan menunggunya, toh saya juga tidak punya acara lain setelahnya.

Setelah dipikir-pikir, mungkin teman saya itu memang sedang tidak ingin dikunjungi oleh saya atau siapa pun. Saat itu saya mengabaikan kejengkelan dan ketidaknyamanannya sewaktu saya tanya sana-sini untuk mengetahui kabarnya. Karena bagi saya teman itu penting, saya ga kepikiran kalau memang dia ga berkenan dengan saya. Sampai akhirnya waktu saya pulang, saya dibekali senyum manis dan sebuah ID untuk menghubunginya.

Senang lah ya rasanya mengantongi ID untuk bisa saling berkomunikasi dan menyambung silaturahim. Sesampainya di rumah, saya pun mem-follow, add, atau apa pun itu bahasanya, ID yang tadi diberikan oleh teman saya itu. Lama setelah saya pantau, ID itu masih belum aktif juga. Dan, saat aktif, sepertinya ID itu tidak/belum mau folbek atau accept friend request saya. Haha…

Jadi, saya pun berpikir, apakah saya terlalu memaksakan kehendak saya untuk berteman dengannya padahal dia ga mau? Saya berusaha memosisikan diri saya sebagai dia. Kira-kira kalo ada orang yang tidak diharapkan tiba-tiba muncul di rumah saya, apa yang akan saya lakukan? Kalo karakter saya siy, saya pengennya dia cepet-cepet pergi. Dengan cara apa pun, saya akan berusaha membuat kunjungannya sesingkat mungkin. *otak kotoran.

Anyway, niat saya siy cuma silaturahim. Kalau memang ada perbuatan saya yang tidak berkenan, saya minta maaf. Untuk berikutnya, saya tidak akan memaksa untuk berkunjung alias nongol mendadak di depan pintu rumah Anda. Hehehe… So, saya siy cuma tinggal nunggu aja kan. Saya cuma ga pengen dicap jadi orang yang temenan cuma kalo ada maunya. Apa pun keadaan Anda, saya akan coba pahami.

Jadi, teman. Selamat kembali beraktivitas. Semoga saya masih punya waktu lagi untuk ketemu kalian.

One Response to “Untitled”


  1. […] pagi. Esoknya, saya sudah meluncur ke beberapa tempat untuk memulai acara silaturahim saya dengan teman dan kerabat. Siang itu saya bertemu teman kuliah, kemudian sorenya saya pergi ke rumah kakak […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: