Menelaah Diri Sendiri

August 3, 2011

Hai, lama juga ternyata ga nulis di kastil tercinta ini.

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1432 H
Semoga Ramadhan tahun ini semakin membawa berkah untuk kita semua. Amien.

Hari ini hari kedua Ramadhan. Dan ternyata hari ini saya mendapat berkah untuk menelaah diri sendiri saat sedang berada di posisi sulit. Ini sih curhat aja soal kejadian di kantor hari ini.

Jadwal ngantor di bulan Ramadhan ini sungguh melegakan. Baru tahun ini saya bisa berbuka puasa di rumah bareng keluarga. Dulu-dulu sih seringnya buka di jalan, sering nyamber paket buka puasa yang lagi dibagiin di jalan. Hehehe.. Berasa musafir deh waktu itu.

Okelah, kembali ke hari ini. Pagi hari hingga setelah istirahat berjalan dengan lancar. Alhamdulillah. Cobaan datang sesaat setelah selesai jam istirahat. Artikel yang saya setor kemarin ternyata gagal total.

kritikHabis-habisan saya diprotes sama bos. Cuma bisa meringis dan ngangguk-ngangguk. Lama juga ngritiknya, sampe 1 jam. Sampe akhirnya bos ngasih tes lagi. OMG! Emang sih kemaren udah ada feeling ga enak waktu mau setor artikel ke folder bos besar, wah taunya beneran deh thu kejadian besoknya.

Sekarang ini saya mau menelaah perasaan saya waktu itu. Suasana ruangan lagi padet, alias orang-orangnya lengkap ga ada yang bolos. Sayup-sayup di kuping saya terdengar suara merdunya mbak Jordin Sparks.

Ternyata waktu disemprot habis-habisan itu isi kepala saya lagi campur aduk. Diam-diam dalam hati saya malah nyanyi-nyanyi ngikutin mbak Jordin. Kaki di bawah meja juga ga terasa ikut goyang-goyang. Terus mata saya malah fokus ke layar monitor temen sebelah saya.

Tambahan lagi di hati saya ngumpul perasaan-perasaan yang aneh bin ajaib. Hahahhaa… Bisa-bisanya saya mikir “Wah, asik nih. Akhirnya saya diberhentikan.” Atau malahan “Wiiyy, bos saya nih, terlalu membanggakan dirinya sendiri.” [emang sih dia punya banyak alasan untuk itu].

Itu adalah kali pertama saya disemprot habis-habisan setelah sekian lama. Wow, rasanya aneh; speechless, hopeless, kecewa, bosen, ga sabar digabung jadi satu.

Kejadian itu masih ada di pikiran saya saat perjalanan pulang. Memang siy omelan-omelan bos itu sangat berdasar dan logis. Walaupun saat itu saya ga begitu dengerin omelan dia, ternyata apa yang dikatakan benar-benar bisa menembus alam bawah sadar saya. [Eh kenapa jadi agak lebay ya?]

Then, kalau saya sering ngaku saya ini punya sifat fleksibel, saya jadi berpikir lagi. Apa iya bener? Sampai sejauh mana mental saya bisa menerima kekalahan telak yang disodorkan di depan mata? Berat memang, tapi kan semua ada jalan keluarnya.

Emang lebih gampang ngomong “terima kekalahan dengan lapang dada” daripada menjalaninya. Hohoohoho…

Anyway, setelah nulis-nulis ga jelas di kastil saya ini, lega juga akhirnya.

kekalahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: