Renungan: Kemeja dan Sarung Hijau Pudar

August 16, 2011

Postingan saya kali ini adalah sebuah renungan pribadi. Saya tergelitik dan akhirnya memutuskan menuangkannya di kastil saya tercinta ini.

Hmm.. ya suasana Ramadhan. Pastinya semua berlomba-lomba memperbanyak ibadah demi mendekatkan diri pada Sang Pencipta.

Tarawih [slash] traweh [slash] teraweh, bahasa atau tulisan apa pun yang dipakai, tetap orang tau apa yang dimaksud. Yak, sholat sunnah yang dianjurkan selama Ramadhan.

Sekarang sudah malam ke-17 Ramadhan. Malam turunnya Al-Quran pertama kalinya–Nuzulul Quran. Dan untuk kesekian kalinya saya melihat mas-mas itu, selalu memakai kemeja dan sarung hijau pudar yang sama setiap malamnya.

Saya tahu namanya, sejak dulu juga saya tahu. Mas-mas itu cukup terkenal di kompleks perumahan saya. Bukan karena gantengnya, kayanya atau kemonceran duniawi lainnya, tapi terkenal karena perilakunya yang agak tidak biasa.

Saya sebut tidak biasa karena memang mas-mas itu tidak seperti orang kebanyakan. Jujur saja, orangnya polos karena memang cara berpikirnya yang berbeda. Anda bisa menarik kesimpulan sendiri apa yang dimaksud dengan “tidak biasa” itu. Kalo istilah jawanya “ga jangkep”.

Saya tidak tahu mas-mas itu sebenarnya putera siapa. Dari isu yang beredar, mas-mas itu diasuh oleh neneknya. Yah, apa pun itu, rasa hormat saya tidak berkurang. Saya tetap salut dengan mas-mas itu.

Dia rajin sekali ibadahnya–terlepas dari dia benar-benar paham atau tidak sebenarnya. Dan Ramadhan kali ini adalah pertama kalinya saya melakukan tarawih di kompleks saya. Maklum, setelah lama di rantau. Saya sering melihat mas-mas itu berada di halaman masjid saat menjelang adzan Isya. Mungkin juga udah dari Maghrib dia ada di masjid. Kemudian dengan polosnya ikut sholat berjamaah–bukannya merusuh seperti orang “ga jangkep” lainnya.

Mau tidak mau, karena mas-mas itu seringnya cangkruk di halaman masjid, saya pun lama-lama memperhatikan. Dia selalu datang ke masjid dengan pakaian dan sarung yang sama. Tempat sholatnya pun sama, tidak di dalam masjid, tapi di bagian luar [karena yang di dalam sudah penuh]. Sholatnya tanpa sajadah–yah, emang ga penting-penting amat sih sajadah.

Yah, jadi intinya apa postingan saya malam ini?

Intinya, saya benar-benar salut dengan mas-mas itu. Terlepas dari ketidaknormalannya dibandingkan dengan yang lain, dia tetap rajin beribadah. Lalu saya pun bertanya pada diri saya sendiri, apa saya lebih baik dari mas-mas itu? Saya tergelitik untuk merenungkannya.

Ternyata, kemeja dan sarung hijau pudar yang dipakai mas-mas itu tetap tampak di mata. Tidak peduli seberapa bagusnya kemeja dan sarung jamaah lainnya. Dan mas-mas itu sudah benar-benar mulai mengubah konsep saya tentang penampilan.

Hai mas-mas, tetaplah rajin beribadah ya. Anda sukses membuat saya iri dengan kerajinan Anda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: