17 Agustus vs 17 Ramadhan

August 19, 2011

17 Agustus–Independence Day

independence day

Bendera di depan rumah

Yoyoi… tanggal merah niy. Libur euy. Karena kantor saya kecil, jadinya ga ada upacara bendera.

Biasanya, malam sebelum tanggal 17 Agustus, orang-orang pada kumpul buat ‘melekan’. Ato istilah familiarnya ‘tirakatan‘. Penghuni kompleks pada kluar, makan bareng, tumpengan, bagi-bagi hadiah lomba 17-an.

Tahun ini rasanya sepi banget. Apa karena malam 17 Agustus kali ini barengan sama malam 17 Ramadhan ya? Jadinya orang-orang lebih milih mengaji. Eh, tapi ga juga. Buktinya di RW sebelah, penduduknya tetep ngumpul dengan meriahnya. Lalu apa yang membuat RT saya sepi nyenyet ya?

Setelah 3 tahun merantau, ternyata situasi di kompleks saya banyak berubah. Penghuninya banyak yang pindah alias banyak rumah kosong. Sebagian rumah sudah dihuni oleh generasi kedua. Kelompok paling konsisten di kompleks saya adalah kelompok ibu PKK.

Kalau dulu waktu kecil, masih sering itu ada lomba 17-an untuk anak-anak dan bapak-ibu. Ada lomba balap karung, tarik tambang, voli, sepak bola, makan kerupuk, gigit koin, masukin pensil ke botol, etc. Eh sekarang nyatanya sepiiiii. Ga ada lagi itu yang namanya karang taruna.

Yah, saya sih emang dari dulu ga ikutan gabung karang taruna karena saya super males kalo pas ngumpul cuma ngomongin gosip. Mending saya tidur aja di rumah deh😀

Sepulang tarawih, saya melintas di jalanan RW sebelah. Wow, tikernya sudah digelar lengkap dengan sound system yang mengumandangkan lagu wajib diselingi dangdut. Hohoho,, tampaknya meriah. Ditambah lagi ada aksesoris umbul-umbul warna-warni yang dipasang di sudut jalan, rangkaian bendera kecil yang diselingi lampion. Wiiyy,, ditambah tumpeng makin mantab itu.

Lalu saya sampai di rumah. Situasi gang saya sangat sepi. Jauh dari kemeriahan 17-an. Umbul-umbul pun hanya dipasang di sudut tertentu. Aduh, sedihnya. Saya kangen meriahnya malam 17-an waktu saya masih kecil dulu. Bahkan ada panggungnya juga.

Yah, eniwei, masih ada RW yang meriah ngerayain malem 17-an. Dan saya akhirnya juga ga ngapa-ngapain di rumah.

Dirgahayu Indonesia ke-66
Semoga bisa menjadi negara maju yang disegani, rakyat semakin makmur, dan pemerintah semakin bijak.

17 Ramadhan–Nuzulul Quran

Sebelum tarawih dimulai, ada ceramah singkat dari pak ustadz. Ceramahnya sedikit lebih lama dari biasanya karena sekalian pengajian dalam rangka Nuzulul Quran. Menurut saya ceramahnya menarik, hanya saja kurang pas kalau untuk kalangan masyarakat semi-pedesaan.

Isi ceramahnya tentang matematika Al-Quran. Ada banyak hal yang belum saya tahu [eh tapi mungkin emang sayanya aja yang ga perhatian]. Rasa ngantuk langsung digantikan rasa tertarik dan penasaran. Oh, jadi ternyata gitu tho.

Jumlah kata malaikat sama dengan jumlah kata syaitan dalam Al-Quran. Pun demikian dengan kata dunia-akhirat, etc. Hmm.. kata ustadz-nya semuanya sudah diatur dan seimbang. Usaha tidak akan berhasil kalau tidak ada pertolongan Allah. Iman harus seimbang dengan ilmu, akal seimbang dengan kalbu.

Al-Quran selalu dibaca sekalipun yang baca ga paham maksudnya apa. Tapi dengan membaca berulang-ulang, sedikit demi sedikit akan paham juga. Iqra’ [bacalah] mencakup lingkup yang luas.

Tambah ilmu lagi deh saya. Asik. Dan ada bonus kue lagi😀

*Telat diposting karena inetnya lagi lemooottt.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: