Short Story: Diary Sang Putri

June 30, 2012

Ini adalah repost short story yg sempat diposting di sebuah forum. Kayaknya waktu itu entah kerasukan arwah pujangga mana kok sampe bisa nulis cerita pendek angst macam gini. Hehehe… Ditulis dengan sudut pandang orang pertama alias dari sudut aku. But obviously, not really me having this situation. Eniwei, enjoy this story of me. The first and only I’ve ever made.

*pengantar*

Semua kegundahan itu menumpuk, menggunung, sampai kutakut gunungan itu akan longsor dan mengepung sekelilingku. Semua bercampur di kepala. Indeed, we have only one head. Satu kepala itu kini sudah ngebul, mesin-mesin yang bekerja di dalamnya, mesin super canggih yang tiada duanya, sudah terlalu panas dan sepertinya perlu untuk diistirahatkan sejenak.

Kerja, refreshing, penghitungan, timeline, schedule, dia, mereka, aku, semuanya bercampur aduk. Pikiran melelah, tubuh merapuh, hati meremuk. Lengkap sudah sepertinya untuk menjadikan metabolisme terganggu.

*beginning of story*

Diary sang Putri

Dia. Saat ini aku hanya mengingatnya. Masihkah aku mengikat hatiku padanya? Sampai-sampai aku tak bisa beralih pada yang lain. Dia. Mungkinkah Dia mengingatku? Kuingin Dia mengingatku, tapi sepertinya kenyataanya tidak semanis yang kubayangkan. Lalu, ada Dia yang Lain. Dia yang Lain yang sedang menunggu sebuah jawaban dariku. Harus kuapakan Dia yang Lain itu? Masih kuabaikan saja Dia yang Lain itu, demi Dia. Hanya Dia.

Sebuah suara bertanya, “Sampai kapan kau akan menunggu Dia?” Ku hanya bisa termenung, tak jua kutemukan jawaban untuk suara itu. Lalu, menyusul pertanyaan yang lain, “Kenapa kau tidak mau mempertimbangkan Dia yang Lain itu?” Masih saja ku diam membisu, tanpa jawaban. Di sudut lain, sebuah pertanyaan terlontar, “Jangan sampai kau mempertimbangkan Dia yang Lain itu hanya karena kekecewaanmu pada Dia. Tuluslah padanya kalau kau benar-benar ingin mempertimbangkan Dia yang Lain itu.” Tak kusangka, air mata menetes.

Dia. Saat aku ingin berlari darinya, selalu saja Dia menarikku kembali. Ingin rasanya hanya menjadikannya masa lalu. Tapi apa daya, pesonanya terlalu memikatku, dan akupun belum bisa melepaskan hatiku darinya. Masih saja kuabaikan Dia yang Lain demi Dia. Aku terus menipu diriku, membuat bayangan-bayangan semu, yang hanya muncul dalam mimpiku.

Apa sebenarnya mauku selama ini? Apa yang kucari? Memang benar aku memimpikan Dia, namun tak selamanya mimpi itu menjadi nyata. “Bangunlah dari mimpimu, Putri” kata suara itu. Begitu menusuk jiwa. Begitu naifkah diriku selama ini? Selalu mencari, tidak melihat dan mensyukuri apa yang ada di depan mata dan telah dihadirkan untukku. Semua yang kubangun di dunia mimpiku luluh lantak, tapi masih saja aku berniat membangun dunia yang lain dari puing-puingnya. Dunia itu, adalah sebuah benteng rapuh hatiku. Kini, dunia itu tersayat, tercabik, menjadi serpihan. Akankah ku bisa membangunnya kembali? Bentengku, perlindunganku, tempatku menyembunyikan segala letih, lelah, dan sakitku.

*end of story*

Nah ya,, setelah bongkar-bongkar isi harddisk leptop saya akhirnya saya repost juga ini short story. Hmmm… jangan bandingkan dengan tulisan profesional ya,, Ini cuma sekadar media untuk merilekskan diri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: