Peraturan Dibuat untuk … ?

January 12, 2014

Hai, semuanya…

Selamat Tahun Baru 2014

Semoga tahun ini lebih banyak hal baik dibanding tahun sebelumnya. Amiin.

Is it too late? Ha, whatever.

rules

grabbed from langology.org

Blog pertama di tahun 2014 ini, saya pengin ngebahas soal peraturan. Hmm,, kenapa peraturan? Ga tau deh ya,, rasa-rasanya akhir-akhir ini banyak banget hal-hal yang melanggar peraturan atau bahkan terlalu mengikuti peraturan (?).

Oke, here we come. Peraturan menurut KBBI berasal dari kata atur.

–       Atur; beratur (v), berarti (1) disusun baik-baik (rapi, tertib); (2) berbaris rapi, antre

–       Peraturan; per-atur-an, berarti (1) tataan (petunjuk, kaidah, ketentuan) yang dibuat untuk mengatur; (2) hubungan keluarga (kpd)

Peraturan yang ingin saya bahas di sini adalah untuk artian yang pertama.

Boleh dikata saya ini orangnya kaku, terlalu mengikuti peraturan; tapi terkadang bisa juga acting based on impulse. It’s only natural that sometimes we act on instinct. (Saya pake bahasa ke-akuan ya,, no protest here, I own the blog :D) Karena cakupan peraturan terlalu luas, saya akan membatasi pada hal-hal yang mengganggu kenyamanan saya untuk soal peraturan. Let’s just say, peraturan lalu lintas.

Terakhir ada berita bahwa salah satu tetangga di kompleks perumahan saya meninggal dunia akibat kecelakaan. Peristiwa tabrak lari entah dengan truk atau bus masih belum jelas karena masih dalam pengusutan oleh kepolisian. Terlepas dari itu kecelakaan karena pelanggaran peraturan atau human error, menurut saya peraturan lalu lintas sudah dirancang untuk mencegah terjadinya kecelakaan.

Sebagai seorang pengendara motor, sering banget kesal karena beberapa pengendara yang tingkat keawasannya di bawah normal. Kenapa saya bilang di bawah normal? Contoh kasus:

  1. Sering saya lihat beberapa pengemudi roda empat dan roda dua yang tidak menyalakan lampu sign kalau mau pindah jalur, asal pindah dan membunyikan klakson keras-keras (tekankan pada kata BEBERAPA, saya tidak men-judge semua pengemudi roda empat seperti ini). Padahal mobilnya bagus, masa iya lampu sign aja ga nyala?
  2. Pengendara motor yang nyelip-nyelipnya keterlaluan, terutama di saat macet. Saya tahu motor memang praktis saat situasi macet, bisa nyelip-nyelip di antara mobil, truk, bus, trailer, asal jaraknya pas. Tapi sering juga ada pengendara yang sudah tau situasinya macet, tapi menyetirnya asal main serobot sana-sini sampai memepet pengendara lain dengan risiko menyerempet kendaraan di sebelahnya.
  3. Pelanggaran terhadap lampu lalin dan zebra cross.

Oke, so what’s the main focus here? Seems like I’m a little bit out of topic? Peraturan lalu lintas dibuat untuk menyamankan semua pengguna jalan, baik pengendara, pejalan kaki, maupun pengatur lalu lintas. Banyaknya volume kendaraan yang melintasi suatu ruas jalan juga menjadi faktor adanya pelanggaran lalu lintas. Ruas jalan yang lebar dan ramai boleh jadi jeda lampu lalin-nya berkisar antara 60-90 menit, sedangkan ruas jalan yang kecil kisaran jeda lampu lalin sekitar 25-60 menit.

Saya paling jengkel dengan pengendara yang melanggar lampu lalin. Sudah jelas di depan mata lampu lalin menyala merah, masih juga menerobos. Entah pengendaranya tidak melihat atau memang sengaja melanggar ya itu cuma pengendaranya sendiri yang tahu. Lampu lalin menyala merah, pertanda pengendara di jalur itu harus berhenti sejenak agar pengendara dari jalur lain bisa melintas dan pejalan kaki bisa menyeberang. Apa jadinya kalau dilanggar? Ada beberapa kemungkinan:

  1. Pengendara yang melanggar melintas tanpa terjadi sesuatu hal
  2. Pengendara yang melanggar tertabrak kendaraan dari jalur lain
  3. Pengendara yang melanggar menabrak kendaraan dari jalur lain
  4. Pengendara yang melanggar menabrak pejalan kaki
  5. Pengendara yang melanggar berusaha menghindari kendaraan dari jalur lain agar bisa melanjutkan perjalanan tapi akhirnya oleng dan jatuh
  6. Pengendara yang melanggar berusaha menghindari kendaraan dari jalur lain tapi akhirnya terbawa arus dan belok ke arah yang tidak seharusnya dia tuju
  7. … (silakan isi)

Well, di antara beberapa kemungkinan di atas, mostly pengendara mengharapkan poin A yang terjadi. Tapi tidak jarang juga poin 2 sampai 6 yang terjadi. Poin 2 sampai 5 bisa dikategorikan sebagai kecelakaan karena pelanggaran lalu lintas. Nah, kalau sampai poin-poin itu yang terjadi, lantas bagaimana? Ada sejuta dalih yang bisa dikatakan sebagai alasan dalam menghadapi situasi tersebut.

Masih mengenai lampu lalin, pengendara di jalur yang lampu lalin-nya menyala merah seharusnya berhenti di belakang garis putih sebelum zebra cross. Hal ini juga sering dilanggar. Meski mungkin tidak mempunyai peluang untuk celaka, tapi hal ini membuat tidak nyaman pejalan kaki yang akan menyeberang jalan. Apa jadinya kalau pengendara motor (mostly motor karena mereka pengin yang paling depan dan paling pertama maju kalau lampu lalin sudah berubah hijau) berhenti di zebra cross?

  1. Pejalan kaki sulit menyeberang karena harus nyelip-nyelip di antara motor
  2. Pejalan kaki enggan menyeberang di zebra cross yang berpotensi celaka
  3. Pejalan kaki masih terjebak di tengah jalan saat lampu berubah jadi hijau dan harus buru-buru lari agar bisa sampai ke seberang yang berpotensi tertabrak
  4. … (silakan isi)

Dari 2 pertanyaan di atas, persentase terjadinya celaka dan tidak celaka sepertinya berat sebelah ya (menurut saya sih). Tapi ya hal itu yang sering dilakukan dan sepertinya sudah jadi hal yang biasa. Peraturan dibuat untuk dilanggar (?).

Saya sendiri mungkin secara sadar maupun tidak sadar juga pernah melanggar lampu lalin. Tapi sebisa mungkin saya menaati lampu lalin, berhenti di belakang garis putih sebelum zebra cross. Dan saya akan meng-ignore pengendara yang mengklakson menyuruh saya maju. Okay, you can call me selfish here, but I do have right to stop before the line.

Bayangkan Anda punya sebuah perusahaan kecil. Anda membuat peraturan kalau karyawan wajib masuk jam 7 pagi. Anda sudah merancang pusnishment tertentu untuk karyawan yang datang terlambat (dengan alasan apa pun kecuali emergency). Apa jadinya jika suatu saat ada karyawan yang terlambat dan alasannya hanya “jalanan macet, pak; bangun kesiangan, pak; motor mogok, pak.” What would you do? Apakah alasan-alasan yang diutarakan bisa dipakai untuk menghapuskan punishment? Mungkin punishment akan tetap dikenakan karena Anda tidak menerima alasan-alasan itu. Lalu suatu saat justru Anda-lah yang terlambat; mungkin karena macet. Sebagai bos, Anda menganggap diri Anda tidak perlu mematuhi peraturan. Hmm,, di sinilah saat suatu peraturan mulai terdistorsi (halah bahasanya). Punishment berlaku hanya untuk karyawan karena Anda bukan karyawan. Namun demikian, karyawan juga perlu contoh konkret tentang ketaatan terhadap peraturan.

Anyhow, bagaimana perasaan Anda jika peraturan yang sudah Anda buat untuk menertibkan karyawan sering dilanggar? Kesal, jengkel, marah? Ada pihak yang dirugikan saat peraturan dilanggar; tidak mungkin tidak. So, dalam hal peraturan lalin, ada baiknya semua pengendara lebih mengendalikan diri dalam berkendara di jalanan. Jangan sampai karena alasan yang simple, Anda melakukan pelanggaran. Tanpa disadari, Anda sudah merugikan orang lain. Mungkin dampaknya tidak langsung terlihat, tapi jika pelanggaran-pelanggaran lain diakumulasi, kerugian juga semakin menumpuk.

Pelanggaran terhadap lampu lalin bisa menyebabkan delay. Jalur yang sudah seharusnya jalan (lampu lalin hijau) harus menunggu para pelanggar-pelanggar lampu merah untuk lewat dulu sebelum mereka bisa jalan. Lalu saat detik waktu hijau habis dan lampu berganti merah, masih ada pengendara yang melintas sehingga jalur lain pun akhirnya harus menunggu sisa-sisa kendaraan yang melintas sebelum bisa jalan.

Lalu, soal lampu sign. Harap tidak lupa menyalakan lampu sign saat akan berbelok, pindah jalur, maupun mendahului. Lampu sign penting bagi kendaraan di belakang dan depan Anda untuk mengetahui apakah Anda akan belok, menyalip, atau sekadar menepi. Pengabaian lampu sign ini sering terjadi baik saat kondisi jalan lengang maupun padat. Anda pun tidak ingin kan kalau tiba-tiba Anda ingin menyalip tapi ternyata kendaraan di depan Anda tiba-tiba juga mengambil jalur yang sama dengan Anda dan membuat Anda kaget lalu tidak jadi menyalip. Itu akan sangat tidak nyaman. Penggunaan lampu sign juga memberi warning kepada pengendara lain untuk memberi sela kepada Anda jika ingin menepi, menyalip atau belok.

keep-calm-and-break-all-the-rules

grabbed from thefauxfoodiegirl.com

Nah, sejauh curhatan saya di atas, bagaimana peraturan menurut Anda? Apakah peraturan dibuat untuk dilanggar ataukah Anda akan menaati peraturan yang dibuat agar semua sama-sama nyaman? The decision is yours to make. Jadilah pelopor berkendara aman dan tertib lalu lintas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: