Renungan: Kasus Sebuah “Prospek”

March 17, 2013

Baiklah, tulisan ini tidak dibuat untuk menyinggung siapa pun, hanya sebuah curahan mengenai apa yang baru saja saya alami.

Secara pribadi, saya pernah mengalami beberapa briefing prospek, entah itu asuransi, produk, bahkan MLM yang bertujuan mengajak kita untuk bergabung. Sejauh ini, saya memang tidak terlalu menanggapi secara serius untuk briefing semacam itu kecuali saya sangat tertarik. Tapi at least saya akan dengarkan penjelasan para duta tersebut sebagai bentuk penghargaan saya terhadap mereka.

Oke, kalau briefing semacam itu sih sudah lazim. Lalu apa yang membuat saya membuat tulisan ini? Tak lain tak bukan karena saya baru saja mengalami briefing sebuah prospek yang membuat saya speechless. Apa itu? Briefing untuk mengajak saya berpindah agama.

Suatu Sabtu, yah sebenarnya tidak ada firasat apa pun saat hari kejadian, saya berangkat ke kantor memang lebih pagi. Alasannya? Karena partner kerja saya tidak masuk dan saya menganggap dengan saya datang lebih pagi, mungkin pekerjaan saya, dan sebagian kerjaan partner yang harus saya cover, bisa selesai ontime. Sabtu gitu lho,, masa lembur sih. Seperti biasa, sesampai di kantor, komputer saya nyalain, termasuk punya partner, dan saya pun siap memulai pekerjaan.

Sebagai perhatian, saya bekerja di perusahaan perorangan yang kecil tapi cukup sukses. Dan kantornya adalah di sebuah rumah, yang tak lain tak bukan adalah rumah si bos pemilik perusahaan. Tak disangka, si bos ternyata sudah bangun dari tidurnya. Cukup membuat saya terkejut karena beliau biasanya bangun agak siang, dan dengan inisiatif menyalakan komputer master karena saya harus akses ke file-file yang ada di komputer itu untuk bisa bekerja menginput data.

Karena hening (saya orangnya ga begitu suka hening saat kerja) jadi saya nyalain winamp di hape saya. Saya biarkan si bos berkutat dengan apa yang harus beliau lakukan dan memulai pekerjaan saya. Dan tak disangka, si bos mendekati dan meminta waktu saya sebentar untuk berbicara. Oke, dengan nadanya yang serius itu, saya pikir beliau mau melakukan evaluasi dan mengoreksi pekerjaan saya, seperti yang biasa dilakukan. Saya iyakan beliau untuk berbicara sebentar dan mengalihkan perhatian saya ke hal yang ingin beliau bicarakan.

“Dini, saya boleh minta waktunya sebentar ya? Saya mau ngomong sebentar dengan kamu.”

“Oke, Pak. Silakan.” Sambil saya kecilin volume winamp saya. Sengaja ga saya matikan karena seperti yang sudah saya bilang, saya tidak suka hening.

“Sebenarnya saya sudah lama pingin ngomong dengan kamu, tapi baru sekarang ada kesempatan yang pas. Ga apa-apa ya saya minta waktunya sebentar?”

“Ga apa-apa, Pak.”

Dan statement beliau yang mengikuti, belum membuat saya berpikiran yang tidak-tidak. Entah ini karena saya yang terlalu clueless ato gimana, saya juga ga tau.

“Dini, kamu tahu tentang Yesus?”

“Tahu, Pak.”

“Kamu juga tahu tentang Injil?”

“Tahu, Pak. Kan kalau di Islam, ada 4 kitab yang kita percayai.”

“Boleh saya jelaskan sedikit ya tentang Yesus dari sisi orang Kristen?”

“Silakan, Pak.”

Oke, mungkin ada yang bertanya kenapa saya masih memberikan kesempatan beliau untuk menjelaskan. Akan sangat ga fair, menurut saya, kalau ada seseorang yang meminta waktu kita untuk memberikan sebuah penjelasan dan menolak mentah-mentah tanpa mendengar lebih dulu apa yang akan dia katakan. So, saya berikan beliau kesempatan. Dalam pikiran saya, wah, mau ngajak diskusi nih. Karena saya tahu selama beberapa bulan terakhir, si bos “kuliah” lagi untuk pendalaman kitab. Meskipun saya bukan orang yang tepat untuk berdiskusi, tapi saya pikir kalau beliau sudah menjelaskan apa yang ingin diketahui, saya bisa arahkan ke sumber yang tepat. Lanjut…

“Jadi, Dini, manusia itu berdosa dan akan masuk neraka. Tapi Tuhan itu baik, Allah itu baik. Manusia diberi kesempatan untuk menebus dosa biar bisa masuk surga. Jadi Tuhan itu turun ke Bumi, Yesus turun ke Bumi untuk menebus dosa manusia. Yesus disalib, tapi 3 hari kemudian dia bangkit lagi. Untuk membuktikan kepada manusia kalau Tuhan itu baik, dosa manusia sudah ditebus dan bisa masuk surga.”

(Note: saya persingkat karena saya ambil hanya intinya saja apa yang dijelaskan ke saya)

“…” Saya masih bengong dan terdiam.

“Saya pingin bukan saya aja yang masuk surga, tapi kamu juga. Jadi tolong dipikirkan baik-baik ya. Kalau ada pertanyaan, kamu bisa datang ke saya.”

Baru ngeh kalau briefing-nya sudah kelar, saya jawab aja, “Oke, Pak.”

“Yasudah, terima kasih waktunya.” Dan si bos pun berlalu.

Saya bersyukur selama briefing winamp saya sayup-sayup masih nyala. Kalau mati, apa kabar dengan otak dan pikiran saya. *tepokjidat.

Dan barulah saya sadari kalau ternyata saya baru saja menjadi sasaran untuk Kristenisasi. Langsung saya minum air banyak-banyak karena tenggorokan saya mendadak terasa kering. Baru beberapa saat kemudian saya bisa balik fokus lagi ke pekerjaan saya.

religion

Seharian itu saya berusaha tidak memikirkan briefing pagi yang membuat saya jadi agak awkward kalo berhadapan dengan si bos. Saya abaikan sesaat untuk dipikirkan lagi saat sudah tidak berkutat dengan pekerjaan, jadi bisa memilah dan menanggapi dengan baik-baik ajakan tersebut.

Saya seorang muslimah dan berkerudung. Saya jadi bertanya-tanya apa yang membuat si bos tiba-tiba mendatangi saya dan memberikan briefing semacam itu. Apakah saya tampak tidak nyaman dengan agama saya? Atau beliau yang tidak nyaman dengan “kostum” saya? Tapi kalau karena alasan yang kedua, seharusnya beliau sudah tahu sejak awal saya apply untuk posisi di perusahaan beliau kalau saya ini berkerudung. Jadi mungkin ketidaknyamanan itu muncul sebagai dampak dari hasil perkuliahan beliau.

Lalu, setelah saya sampai di rumah, saya mengontak beberapa orang yang saya percayai untuk menanggapi masalah tersebut dengan kepala dingin tanpa emosi berlebihan. Tanggapannya pun beragam, ada yang frontal dan ada yang kalem tapi tetap sesuai dengan koridor keagamaan. Dan satu hal yang bisa saya simpulkan dari beragam jawaban tersebut adalah kalau saya sebaiknya segera keluar saja dari tempat itu.

Pertanyaan besar bagi saya adalah kenapa saya yang dipilih untuk diberi briefing tersebut. Pilihan jawaban saya diantaranya seperti yang sudah saya sebutkan di atas:

1. Saya tampak tidak nyaman dengan agama saya.
2. Beliau tidak nyaman dengan “kostum” saya?
3. Beliau hanya memilih saya out of the blue karena datang pagi dan saatnya tepat karena sepi dan yang lain belum datang sebagai “bahan praktikum” perkuliahan beliau.
4. Saya tampak too far gone sehingga perlu penyelamatan drastis dari rescuer.

Mau tidak mau, kejadian tersebut membuat saya jadi tidak nyaman dan tentunya mengubah pandangan saya terhadap beliau. Saya anggap tadinya beliau itu menghormati kami (bentuk jamak, karena karyawan beliau mayoritas muslim), karena sebagai pemeluk Kristen, beliau memberikan kami space untuk melakukan ibadah sholat. Saya pribadi menganggap dengan memberikan space dan fasilitas mukena itu adalah itikad baik beliau setelah menerima kami bekerja. Dan ternyata harus ternoda dengan kejadian itu.

Saya bisa menganggap kejadian ini sebagai sebuah ketidaksengajaan dari beliau. Karena seperti yang dikatakan oleh seorang dosen saya,

Di Indonesia ini mengajak secara khusus orang yang sudah beragama untuk memeluk agama lain itu melanggar undang-undang. Kalau di lapangan secara umum atau di radio kan tidak jelas individunya.

Lalu, saya penasaran apakah teman-teman saya juga sudah mendapat briefing khusus dari si bos untuk masalah ini. Tapi saya belum berani bertanya kepada siapa pun karena tidak ingin menimbulkan isu yang tidak perlu.

Secara pribadi, hal ini sudah menyinggung saya. Meski tidak ofensif, tapi tetap saja, agama adalah tentang prinsip. Saya sampai bertanya juga ke salah seorang kawan yang beragama Kristen tentang hal ini. Tanggapan dia pun sama, berujung meminta saya untuk segera keluar saja dari tempat kerja.

Jadi, mungkin dalam waktu sangat dekat, saya akan meninggalkan kantor saya yang sudah 2 tahun ini saya tempati. Terlepas dari saya suka pekerjaan dan gajinya, tapi kalau sudah menyangkut prinsip tidak ada tawar-menawar.

Terima kasih sangat kepada @aicchan, hayou_roxa, llyll_carolina, Palupi Wuriarti, @dkaekas, dan pak Bambang Irawan yang sudah memberikan saran dan pandangan untuk dipertimbangkan.

Sekali lagi saya tegaskan, tulisan ini tidak dibuat untuk menyinggung siapa pun dan pihak mana pun. Sebagai umat beragama, saya menghormati pemeluk lain untuk menjalankan ibadahnya masing-masing sebagaimana saya menghormati bos saya dengan memberikan kesempatan berbicara dan menjalankan dakwahnya. Terlepas sasaran dakwahnya itu tepat atau tidak. Kesempatan dibuka seluas-luasnya bagi siapa pun yang ingin berkomentar dan bersaran bertukar pikiran.

Salam,

4 Responses to “Renungan: Kasus Sebuah “Prospek””


  1. Yang sabar ya, Dinie-san. Ya seperti yang kemaren-kemaren, kalo emang udah jadi g nyaman banget, mending keluar deh, daripada nanti juga malah pengaruh ama kinerja dikau di tempat itu.
    Ga bisa komen banyak2, soalnya juga udah dibahas kan. Well yeah… semoga bisa menjadi pembelajaran sih buat yg lainnya.
    #kemudianmenghilang


  2. Briefing Πγª bikin atuuudd …
    Ʊϑaђ itu дĵª …
    ƗƗiƗƗi “̮ ƗƗiƗƗi “̮ ƗƗiƗƗi “̮ ƗƗiƗƗi “̮ ƗƗiƗƗi


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: